Hasrat Bosan Mendiami Relung Sepi Masyarakat Indonesia



BelajarPolitik - Gilles Deleuze dan psikoanalisis Prancis, Félix Guattari, menyebut jika hasrat atau gairah manusia adalah sesuatu yang pasti niscaya, dan tidak akan padam, terus menyala dan mengalir sampai batas-batas sejauhnya.

Akhir-akhir ini, politik demokrasi bangsa terutamanya banyaknya komentar warganet yang mengirimkan #AsalJanganBanteng adalah wujud hasrat, kebosanan masyarakat akan kepemimpinan Joko Widodo.

Meski, dalam satu sisi kita melihat Jokowi Effect, yang hari ini disebut-sebut akan turut menentukan siapa yang akan lebih unggul di Pilpres 2024 mendatang. Senyatanya, penelitian terbaru Utting Research yang dianggap representatif menyebut sedikit yang menginginkan tokoh yang identik memimpin.

Di satu sisi, memang masyarakat puas dengan kinerja Joko Widodo sebagai presiden sebagaimana hal ini selalu nampak dalam survey-survey tanah air.

Tapi, dalam bagian lain bukan berarti pancaran sosok yang sama, diinginkan oleh masyarakat untuk kembali memimpin. Tetap, masyarakat butuh perubahan!.

Perubahan yang dimaksud, bukan berarti masyarakat butuh sosok Anies Baswedan yang identik dengan anti-tesa Jokowi. Terlebih, di banyak lembaga survey Anies Baswedan konsisten menduduki peringkat ketiga di bawah Prabowo Subianto dan Ganjar Pranowo.

Tetapi, perubahan yang dimaksud bisa merujuk pada banyak hal: sosok calon dengan idea pembangunan selurus dengan Jokowi, atau sosok calon yang mirip secara bahasa politik, bahasa tubuh pemimpin dan lain semacamnya, semacam copy paste Jokowi tetapi dengan idea yang berbeda.

Yang jelas, terdapat kebosanan dalam masyarakat kita, sedangkan kebosanan adalah suatu niscaya dalam kehidupan manusia. Ia selalu bersemayam dalam setiap relasi pergaulan hidup.

Kebosonan senyatanya telah membuat homo sapiens 10 ribu tahun yang lalu memutuskan untuk tidak lagi hidup nomaden dan mulai bercocok tanam.

Rasa bosan dengan realitas pula telah mampu membuat Rene Descartes keluar dari belenggu gereja yang mengekang kebebasan berpikir.

Kebosonan juga telah mampu membuat Sayidina Utsman ibn Affan terpilih, dalam beberapa literatur, tidak dipilihnya Imam Ali sebagai khalifah ar-Rasyidin karena corak gaya kepemimpinan Ali sama dengan sayidina Umar ibn Khattab.

Sejarah, adalah barang yang selalu berulang, bersemayam dalam alam singularitas dan manusia-manusia beruntunglah yang dapat membuat perubahan tadi.

Maka, pertanyaan; kebosanan apa yang sedang menyelimuti perasaan rakyat Indonesia? kebosanan terhadap tokoh, idea, partai politik, budaya politik-demokrasi atau jauh lebih dalam daripada itu?.

Namun, yang jelas kebosanan adalah hal niscaya. Maka, meskipun sekarang banyak bakal calon presiden yang seolah-olah berebut (caper) ke Jokowi untuk mendulang simpatisan dan relawan Jokowi.

Tapi, di sisi lain signature atau ciri khas daripada dirinya sendiri jangan sampai hilang-jangan hanya menjadi copy paste Jokowi.

Implikasinya sederhana, agar rakyat tidak bosan sehingga terdapat varian yang membuat distingsi antar-rezim penguasa. Toh, tidak mengapa pula bukan jika berbeda? asal demi kebaikan bangsa dan negara?. Heuheu. 

Komentar