Elektabilitas
partai Nasdem pada survey indekstat per 2022 lalu ada di angka 2.1%. Padahal
dalam dua pemilu yang telah diselenggarakan tren parpol pimpinan Surya Paloh
ini telah berhasil bersaing di posisi 5 besar.
Mungkinkah
langkah Nasdem yang condong ke oposisi dan mengusung Anies Bawedan menjadi
salah satu penyebab kegagalan Nasdem di 2024 mendatang?
Pada pemilu
2014 partai Nasdem mendapatkan 8.402.812 suara atau 6,72% pada pemilu 2019
angka tersebut melonjak menjadi 12.661.792 atau 9,05%.
Namun, angka
tersebut seolah-olah menjadi hantu bayangan Nasdem, mengingat banyak hasil
survei memperlihatkan tren negatif yang menimpa partai ‘restorasi’ ini.
Indikasi
sederhananya, karena partai pimpinan Surya Paloh ini telah lebih condong kepada
oposisi dan golongan yang dinilai ‘intoleran’. Tulisan ini akan mencoba
memberikan hal-hal yang perlu diperhatikan Nasdem agar dapat berkata lebih
banyak di pemilu mendatang.
Hal paling
fundamen yang mesti dilakukan adalah mere-branding citra untuk calon presiden
yang diusungnya. Hal ini dilakukan agar political marketing yang harus
memerhatikan positioningnya tepat.
Re-branding
diartikan sebagai proses untuk merubah citra dari suatu produk yang akan
dipasarkan. Dalam hal ini, produk yang ditawarkan Nasdem adalah Anies Baswedan
yang secara minat konsumen telah meraih simpatik golongan religius.
Tetapi, di sisi
lain polarisasi politik yang telah tertanam kuat terutama pascadua pemilu yang
lalu, telah memposisikan siapa saja yang mendukung Anies Baswedan dan
kroni-kroninya adalah golongan intoleran yang acap menggunakan politik
identitas
Di sinilah tugas Nasdem untuk dapat kembali memasarkan produknya dengan citra yang lebih hangat dan inklusif.
Untuk Re-branding tersebut dapat dilakukan dengan startegi positioning politik yang oleh Ries & Trout didefinisikan sebagai semua aktifitas untuk menanamkan kesan di benak konsumen agar mereka dapat membedakan produk dan jasa yang dihasilkan oleh organisasi bersangkutan.
Meskipun, implikasi
logisnya adalah dengan merubah positioning dan citra seorang Anies Baswedan
tidak serta merta akan memperoleh simpati dari pasar yang telah dicanangkan,
dan di sisi lain tentu dapat saja konsumen yang pada hari ini telah dekat
dengan Anies dapat meninggalkannya, karena citra yang ada telah hilang
sedangkan nilai-nilai baru belum terbentuk. Gramsci menamai hal ini dengan
situasi krisis.
Selanjutnya,
memilih kawan sepergerakan yang berbeda secara citra politik. Meski, kabar
terbaru mengatakan antara Nasdem, Demokrat dan PKS telah bersepakat membentuk
koalisi perubahan.
Hemat penulis
sendiri, koalisi perubahan tidak akan memperoleh suara yang mampu mengantarkan
calonnya menduduki singgasana RI 1, karena citra yang telah terbangun dalam dua
pemilu terakhir, PKS dan Demokrat lebih dikenal sebagai oposisi dan amat sulit
untuk memperoleh simpati dari pendukung pemerintah.
Untuk itu, lagi dan lagi upaya merubah citra agar terkesan sebagai partai yang tidak “nyinyir” tetapi lebih merupakan oposisi yang kontruktif dengan capres yang diusung tidak menggunakan politik identitas yang mensubordinasi kelompok lain menjadi keperluan partai Nasdem dan koalisi ke depannya.
Hal tersebut
dapat dilakukan dengan memilih bakal calon wakil presiden untuk Anies yang
dapat menutupi kekurangan Anies atau setidaknya menutupi citra ‘buruk’ yang
disematkan padanya.
Di sisi lain,
walaupun masih banyak fakto-faktor lain yang dapat menjadi kunci kemenangan
atau upaya untuk mempertahankan suara Nasdem agar dapat bertahan di 5 besar, seperti
kekuatan para calon legislatif, ataupun kekuatan finansial dan media yang
diperkokoh, menurut penulis dua hal di ataslah yang dapat menjadi faktor utama
agar Nasdem dan koalisinya dapat keluar sebagai jawara pada pemilu mendatang.
Editor: Isma Maulana Ihsan | Kirim tanggapanmu melalui akun media sosial kami
%20%23Surya_Paloh.png)


Komentar