Komedi dan Politik

Pembukaan acara PoLICIK oleh MC: Foto milik pribadi; Miftahul Ihsan

Dewasa ini komedi menjadi alat yang sering digunakan untuk menyuarakan keresahan. Salah satunya, keresahan-keresahan yang timbul dalam dunia politik empirik kita. Komedi yang menyajikan tawa, digabungkan dengan politik yang memberikan dusta. Keduanya ternyata dalam kait-berkelindan menjadi satu-padu untuk menyuarakan kepentingan rakyat kebanyakan.

Komika terkenal seperti Bintang Emon, Gilang Baskara dan lainnya yang memang terkenal sering menyatire politik dengan komedi mampu menyadarkan masyarakat akan 'kebobrokan' kebijakan pemerintah melalui renyah-tawa. Salah satu kasus akan hal ini adalah saat pengesahan kasus penyiraman Novel Baswedan yang mana saat itu hakim memberikan hukuman satu tahun kepada pelaku penyiraman tersebut.

Komedi dan Politik, meskipun keduanya berada dalam dunia yang berbeda. Ternyata sama-sama beririsan pada tujuan yang sama. Yaitu, kebaikan bersama. Komedi yang selalu identik dengan tawa ternyata mampu hadir berbarengan dengan politik yang identik dengan kuasa.

Maka, tak heran jika kemudian muncul pernyataan; kekuasaan itu perlu ditertawakan. Kita melihat bagaimana tingkah polah politisi kita dewasa ini tak ubahnya seperti seorang komedian yang bertingkah jenaka. Bedanya, jika para komedian membuat kita tertawa secara lepas, para politisi membuat kita geleng-geleng kepala.

Untuk itu pula, Stand Up Comedy UIN Bandung pada tanggal 25 September lalu menggelar acara bertajuk, "PoLICIK: Politik itu Licik" sebagai perwujudan akan keresahan sebagai besar mahasiswa UIN Bandung akan tingkah laku para elite kampus dan organisasi ekstranya.

Tim BelajarPolitik berfoto bersama dengan opener acara

Meskipun, di satu sisi kita juga tak dapat menutup mata bahwa pada akhirnya sejenak dan seasyik apapun kritik melalui komedi. Pasti akan mendatangkan ketersinggungan dari pelbagai pihak, untuk itu sebabnya Cekas salah seorang komika pada acara tersebut mengatakan siap untuk berdiskusi dan duduk bersama jika dirasa ada yang tersinggung.

Ia pun menambahkan, bahwa pihaknya menggelar acara ini karena keresahan akan dunia politik yang lucu tapi tidak dapat bikin ketawa, "Ke depannya tentu kami akan membuat acara seperti ini lagi, jika ada keresahan yang serupa" tuturnya.

---

KIRIMKAN TULISANMU KE: redaksibelajarpolitik@gmail.com | Kumpulkan Poin dan raihlah hadiah!

Komentar