Aduh! Bung, banyak
sekali titipan aduan dan keluhan terhadap Negeri ini dari kawan-kawan seatapku
Tapi, kupikir
sayang sekali jika waktu kita berdua yang berharga dan sedikit ini mengikis
nyata menyulam Negeri yang semakin nyata dan lucu
Jadi, kupikir aku
akan mengadu sekaligus mencurahkan kesedihan menjadi milenial yang serba
terbatas cinta dan harapannya
Penasaran apa yang
akan aku lakukan ketika menemui para politikus masa kini, apakah aku akan
memeluknya atau menamparnya satu-persatu!
(menghela nafas
dua kali)
Bung!, jika kau
diberi kesempatan untuk memperbaiki Negeri ini, mana yang akan kau benahi
dahulu: Politik? Sosial? Atau Cinta?
Ah, tau sekali aku
ekspresi itu, ekspresi lucu sekaligus bingung, lagipula siapa pula yang tidak
bingung dan jenuh berdiskusi masa depan agar Negeri tidak bingung: Besok mau
makan apa?
Tak usah dijawab,
bung!. Nanti, sakit kepala!
Nanti, puisiku berubah lucu dan hilang makna!
DPR semakin
mewakili bung, kenapa tertawa? Maksudku mewakili jiwa sakit rakyat! Untuk bunuh
diri sambil menertawakan Negeri
Ingin sekali aku
menampar Juliari sekali mati,
Bisakah kau melakukannya untukku?
Lelah kau, bung? Tidurlah lagi. Indonesia telah habis dimakan ego, doakan aku dapar sisanya. Dikirim dari iPhone saya.
2022/
*Karya: Silma Hanifa (dikenal sebagai Penulis)
---
Kirimkan Tulisan Anda ke redaksibelajarpolitik@gmail.com | Tulisan dapat berupa esai, artikel, berita terkini, puisi dan lain sebagainya, kumpulkan poin dan terimalah hadiah!.


Komentar