Puisi, "Ku Kira ini adalah Sajak Yang Aku akan bacakan jika dihadapanku ada bung Karno"

 


Aduh! Bung, banyak sekali titipan aduan dan keluhan terhadap Negeri ini dari kawan-kawan seatapku

Tapi, kupikir sayang sekali jika waktu kita berdua yang berharga dan sedikit ini mengikis nyata menyulam Negeri yang semakin nyata dan lucu

Jadi, kupikir aku akan mengadu sekaligus mencurahkan kesedihan menjadi milenial yang serba terbatas cinta dan harapannya

Penasaran apa yang akan aku lakukan ketika menemui para politikus masa kini, apakah aku akan memeluknya atau menamparnya satu-persatu!

(menghela nafas dua kali)

Bung!, jika kau diberi kesempatan untuk memperbaiki Negeri ini, mana yang akan kau benahi dahulu: Politik? Sosial? Atau Cinta?

Ah, tau sekali aku ekspresi itu, ekspresi lucu sekaligus bingung, lagipula siapa pula yang tidak bingung dan jenuh berdiskusi masa depan agar Negeri tidak bingung: Besok mau makan apa?

Tak usah dijawab, bung!. Nanti, sakit kepala!
Nanti, puisiku berubah lucu dan hilang makna!

DPR semakin mewakili bung, kenapa tertawa? Maksudku mewakili jiwa sakit rakyat! Untuk bunuh diri sambil menertawakan Negeri

Ingin sekali aku menampar Juliari sekali mati,
Bisakah kau melakukannya untukku?

Lelah kau, bung? Tidurlah lagi. Indonesia telah habis dimakan ego, doakan aku dapar sisanya. Dikirim dari iPhone saya.

2022/


*Karya: Silma Hanifa (dikenal sebagai Penulis)

---

Kirimkan Tulisan Anda ke redaksibelajarpolitik@gmail.com | Tulisan dapat berupa esai, artikel, berita terkini, puisi dan lain sebagainya, kumpulkan poin dan terimalah hadiah!.

Komentar