Ditengah perjuangan mahasiswa dalam menegakkan nilai-nilai dan idealisme kebenaran serta segala bentuk kezaliman dan keserakahan yang dipertontonkan rezim ditambah dengan rencana pembuatan aturan-aturan nyeleneh dan terkesan bersifat, “kolonial”. Konsentrasi Mahasiswa terpecah dengan berdirinya satu Partai politik yang mengatasnamakan diri, Mahasiswa Indonesia.
Pro-kontra
pun bermunculan, pembahasan dan diskusi digelar baik dalam ranah dunia
kampus-kampus seluruh Indonesia atau ditelevisi-televisi. Media sosial, ikut
andil memeriahkan dialektika berdirinya Partai Mahasiswa Indonesia yang
dinahkodai, Eko Pratama ini. Di satu sisi, mereka yang Pro berangkat dari
sesuatu yang bersifat Prosedural, tentang boleh dan tidak bolehnya pendirian
Partai oleh mahasiswa, di satu sudut lain mereka yang kontra mencoba memasukan
nilai-nilai, hakikat dan sesuatu yang bersifat subtansial pada demokrasi yang
diwacanakan. Keduanya, menurut hemat penulis tidak bertemu pada satu titik
tolak ukur penilaian yang sama. Argumentasinya jelas, yang satu mengatakan
tidak ada larangan maka boleh-boleh saja. Yang satu, mengatakan tidak etis
serta mempermasalahkan pembiayaan partai, karena seperti sudah kita ketahui
bersama biaya politik di Indonesia apalagi mendirikan partai Politik
membutuhkan dana yang tidak sedikit, duit darimana? Kira-kira begitu
pertanyaan Sebagian kelompok menanggapi berdirinya partai ini, selain itu
mereka juga mempertanyakan urgensi, visi-misi, program serta hal-hal lainnya
yang belum dapat diterangkan secara lugas dalam diskusi-diskusi yang ada.
Maka,
kiranya kemudian perlu melihat perdebatan ini secara objektif-kritis. Artinya,
melihat dalam dua sudut pandang untuk kemudian menilai mana kiranya yang lebih
memberikan maslahat-keuntungan, terutama dan terkhususnya bagi perkembangan
Mahasiswa Indonesia ke depannya. Untuk itu, Tim BelajarPolitik akan mengadakan webinar Wacana
(dialektika) Mahasiswa edisi I yang akan mengusung tema polemik PMI
ditengah arus polarisasi Narasasi dan Aksi mahasiswa yang sekarang
tersegmentasi.
Diskusi
akan dihadiri langsung oleh Ketua umum PMI, Eko Pratama. Setelah melakukan
hubungan via DM Instagram, Eko bersiap untuk memberikan penjelasan tentang
kesimpangsiuran berita mengenai partai yang dipimpinnya. Di satu sisi lain,
demi menghadirkan dialektik yang konstruktif sebagai bentuk Pendidikan Belajar
Politik, maka kami juga mengundang Azmi (Anggota Serikat Mahasiswa Progresif
Universitas Indonesia) sebagai penanggap dalam diskusi yang akan digelar pada
23 Juli mendatang.
Sekurangnya,
ada 3 pertanyaan penting yang menjadi fundamen untuk diangkat dalam diskusi
tersebut. Ketiganya mencakup maksud dan tujuan pendirian partai, pergerakan
mahasiswa hari ini dan juga tantangan serta ancaman demokrasi.

Komentar