Untuk menyuarakan apa yang menjadi keresahan Gen Z agaknya
memang kudu ada orang yang benar-benar mengerti mereka. Orang jelas-jelas
mengerti keresahan Gen Z yang mereka sendiri, Gen Z itu sendiri. Gen Z adalah
generasi up to date, oleh sebabnya Sebagian orang menyebut mereka sebagai
i-generation. Isu-isu yang menjadi perhatian generasi ini pun beragam dari
fashion sampai politik tak luput dari perhatiannya.
Dewasa ini, Gen Z mulai diperhitungkan peran dan
suaranya dalam kancah Politik nasional. Komunikasi para elite politik pun mulai
mempertimbangkan suara-suara Gen Z, gaya komunikasi elite tersebut tidak lagi
bertumpu pada hal-hal yang terkesan, “terlalu tua” kita dapat melihat bagaimana
banyak ketua umum atau tokoh-tokoh politik yang aktif di media sosial. Jawaban dan
tujuannya jelas, selain karena menyesuaikan jaman, mereka juga hendak merasa
lebih dekat dengan para pengguna media sosial yang kebanyakan adalah gen Z.
Namun, keterwakilan Gen Z dalam dunia pemerintahan
terutama pada sektor-sektor strategis agaknya masih kurang diberikan
kesempatan. Meskipun begitu, kita harus mengakui bahwa invansi Gen Z dalam
dunia politik progressif hari ini mulai kencang, bermunculannya partai-partai
yang diinisiasi oleh pemuda seperti PSI misalnya juga mulai adanya perhatian
dari partai-partai lama yang mulai melakukan pendekatan dengan i-generation cukup
memberikan peluang yang menjanjikan bagi masa depan politik Gen Z. Terlebih,
Indonesia yang digadang-gadang akan menyongsong masa emas di tahun 2045 pasti
akan diisi oleh Generasi Z ini.
Disisi lain, perlu juga ada usaha memberikan pemahaman
yang dapat juga dimaknai sebagai pembekalan kepada generasi Z tentang Pendidikan
politik. Menjadi penting Pendidikan politik bagi Gen Z terutama mereka yang
hendak terjun ke dalam dunia politik praktis, tujuannya mulai yaitu untuk
menciptakan iklim demokrasi yang benar-benar demokratis yang berjalan bukan
hanya sebatas kepada prosedural kelembagaan saja lebih dari itu langsung menyasar
hal yang bersifat fundamen, etis dan subtantif.
Generasi lama, biarlah dengan kebudayaannya
sendiri-sendiri. Tetapi, generasi yang lahir pasca reformasi harus memiliki
semangat baru, visi baru, kebudayaan baru. Yang benar-benar secara konsekuen
menjalankan demokrasi sesungguh-sungguhnya ditengah arus radikalisme yang
banyak menyasar kaum muda, ditengah kebangkitan populisme dan antitoleransi.
Kedepannya, dunia politik Indonesia akan lebih banyak
menghadirkan generasi-generasi muda yang bakal mengisi jabatan-jabatan yang
lebih strategis. Program yang ditawarkan mereka pasti akan revolusioner dan
visioner, menerabas bentuk-bentuk feodalisme dan keruwetan birokrasi. Gen Z
akan memanfaatkan efisiensi sehingga menciptakan sesuatu yang efektif dalam
penyelenggaraan pemerintahan.
Namun, untuk sementara agaknya Gen Z butuh bestie yang
benar-benar bestie, ngerti luar dalem apa yang menjadi kebutuhannya. Di parlemen-parlemen
masih sedikit keterwakilan mereka, bestie yang nggak hanya memanfaatkan
suaranya aja, tapi bener-bener berada disamping Gen Z. Siapakah kira-kira
bestie itu? Politisi? Agamawan? Atau siapa? Tentunya, bestie ini yang tau apa
keinginan Gen Z. bisa siapa saja, yang jelas bukan dia yang seolah-olah Gen Z,
seolah-olah gaul dan dekat dengan mereka tetapi jauh di dalam pikirannya, jauh
dalam prinsipnya masih memegang nilai-nilai lama yang feudal, yang hipokrit,
yang pura-pura. Karena Gen Z senyatanya selalu terus terang.
*ditulis oleh Tim Redaksi BelajarPolitik.com
---
KIRIMKAN TULISAN ANDA KE : redaksibelajarpolitik@gmail.com | Tulisan dapat berupa opini, berita aktual, esai atau apapun itu. Kumpulkan poin setelah tulisan dimuat kemudian tukarkan dengan hadiah menarik dari kami.

Komentar