DEMOKRASI ITU SAMA DENGAN KONSEP TUHAN MEMANDANG MANUSIA

 


Tuhan tidak memandang Manusia lewat rupa atau harta dan tahtanya. Ia hanya melihat cinta kalian kepadanya. Demokrasi juga begitu, bedanya kebenaran dan halal atau haram ditentukan oleh suara mayoritas. Meskipun begitu, kedua-duanya bertemu dalam satu kerangka yang sama. Memandang manusia setara.
- Founder BelajarPolitik.com

Setiap insan yang lahir, tumbuh dan hidup dalam arus demokrasi rasa-rasanya pasti sudah mengetahui esensi, hakikat dari demokrasi. Yaitu, selain definisi dan hakikat demokrasi yang merupakan dari rakyat, oleh dan untuk rakyat sebagaimana dikatakan oleh Abraham Lincoln. Demokrasi pula merupakan sebuah alat. Alat untuk mencapai tujuan bangsa Indonesia sebagaimana konsitutsi mengamanatkan hal tersebut.

Tujuan bangsa Indonesia, jelas: menciptakan masyarakat berkeadilan. Sehingga kemakmuran baik secara zahir maupun batin akan tercapai untuk kesejahtraan bersama, hingga kemudian menjadi negara yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur, gepah ripah loh jenawi. Maka, untuk mencapai tujuan itu, bangsa Indonesia sepakat menggunakan demokrasi sebagai alatnya. Suatu waktu jika memang diketemui ada masalah maka alat itu bisa dirubah, tapi untuk umur Indonesia yang sudah dewasa ini: mengganti sesuatu untuk sesuatu yang belum tentu apakah yang diperlukan?

Perdebatan tentang demokrasi memang bukanlah hal yang luar biasa. Itu biasa terjadi bahkan sejak era Yunani Kuno sekalipun, beberapa filosop seperti Socrates, Plato bahkan sampai Aristoteles menganggap Demokrasi itu barang yang buruk. Karena semua orang mendapat hak dan kewajiban yang sama, antara si bodoh dan si bijak, si kaya dan si miskin disama ratakan. Tingkat professor dan (maaf) tukang bakso disamakan hak dan kewajibannya di hadapan Demokrasi. Tak ayal, menurut Plato pemerintah yang baik itu adalah yang bijak dan kebijaksanaan itu hanya akan ada oleh mereka yang mempunyai pengetahuan (pintar), dan demokrasi berpeluang dipimpin oleh seseorang yang tidak bijak, tidak berilmu. Maka, apa jadinya jika seorang pemimpin bukanlah orang bijak atau bukan orang pintar? Kehancuranlah yang akan diterima- begitu ramalan para filosop tersebut.

Namun, bagi penulis sendiri; demokrasi itu bagus sebagai alat kita dalam mencapai tujuan berbangsa dan bernegara karena ia merupakan pencerminan dari masyarakat kita yang religius; yaitu, berprinsip bahwa Tuhan tidak memandang seberapa banyak harta kekayaan dan atau kedudukan kita, tapi Tuhan melihat takwa dari setiap hambanya. Begitu juga Demokrasi tidak melihat kamu adalah mayoritas atau bukan, kamu cakep atau tidak, kamu kaya atau miskin, demokrasi menyamaratakan semua. Meskipun, dalam beberapa kasus Tuhan juga bilang, ia menaikan beberapa derajat orang-orang yang berilmu. Ini sama seperti demokrasi, meskipun kamu mayoritas tetapi kamu tidak bisa beretorika dan mengambil hati banyak orang, kamu bisa kalah dalam kontestasi elektoral. Namun, tetap saja Demokrasi atau situasi di negara demokrasi mencerminkan masyarakat yang religius yang menerapkan syariat Tuhan- memandang Manusia tidak dengan kedudukan tapi dengan takwanya-.

Masyarakat Demokrasi adalah masyarakat yang tidak memandang kedudukan manusia, karena semua manusia mendapat hak dan kewajiban yang sama meski dalam negara demokrasi modern pula kebanyakan dari, orang-orangnya bersungut-sungut, beribut-ribut mencari kedudukan!. Bahkan untuk merebut dan mempertahankan kedudukannya baik di pemerintahan atau dipergaulan masyarakat mereka menghalalkan segala cara. Meminjam kata Soe Hok Gie, “Kita seolah-olah merayakan demokrasi tetapi memotong lidang mereka yang bertentangan dengan pemerintah (pemegang kedudukan)” sesuatu yang ironis tapi memang begitu realitanya.

Maka, sebagaimana sebuah alat bikinan manusia; ia ada baik, ada buruknya. Tinggal si pemegang alat itu, mau diapakan dan mau dibawa kemana dengan memegang alatnya. Untuk kemaslahatan bersama sebagaimana konsepsi awal politik dan pemerintahan atau untuk kemadharatan sebagaimana Machiavelli merumuskannya? Yang jelas demokrasi adalah alat, ia tidak bisa dicap baik atau buruk. Ia merupakan alat bikinan manusia, menjadi kewajiban manusia adalah menggunakan alatnya itu.

*ditulis oleh Tim Redaksi BelajarPolitik.com

---

KIRIM TULISAN ANDA KE : redaksibelajarpolitik@gmail.com | Tulisan dapat berupa opini, berita aktual, esai dan lain sebagainya, kumpulkan poin dan terimalah hadiah dari kami.

Komentar