2024, Bib?

Pelibatan tokoh agama dalam arus politik nasional memang bukanlah sesuatu hal yang biasa. Secara historis, pelibatan tokoh agama di Indonesia dapat ditelusuri sejak era kolonial. Di era Jepang, bahkan para tokoh agamawan Muslim, alim ulama. Terhimpun dalam sebuah majelis yang menjadi asbabun nuzul Partai Masyumi. Jauh sebelum itu, pelibatan ulama juga begitu massif dalam usaha pergerakan kemerdekaan Nasional. Terhitung ada begitu banyak organisasi dan tokoh-tokoh pergerakan yang menggunakan embel-embel agama, terutama Islam dalam usaha meraih tujuannya. Dimulai Serikat Dagang Islam yang kelak menjadi Syarikat Islam dibawah pimpinan Tjokroaminoto dan Agus Salim. Hingga Jamiatul Khair. Meskipun tidak semua berlatar politis tetapi peran kaum agamawan begitu besar dan menjadi kunci penting yang tidak bisa dianggap remeh.

Indonesia juga secara empirik pernah dipimpin oleh seorang ulama, Namanya Gus Dur atau lengkapnya Kyai Haji Abdurrahman Wahid salah satu tokoh yang terlahir dari kekompakan kaum Muslimin diparlemen yang membentuk koalisi poros tengah, menjegal ketua partai yang memenangkan pemilu saat itu, Megawati Soekarnoputeri. Pada hari ini, kesuksesan ulama dibidang politik pun terlihat dari duduknya Kyai Ma’ruf Amin sebagai wakil Presiden mendampingi Presiden Joko Widodo di periode keduanya ini. Meskipun, kritikan datang bertubi-tubi karena menanyakan peran serta fungsi wapres yang dinilai banyak pihak tidak begitu terlihat, malah yang terlihat adalah menko investasi, Opung Luhut. Tapi, tulisan ini tidak akan mengulas itu. Tulisan ini akan berfokus pada peran ulama yang baru saja bebas dari penjara dan juga terlibat begitu aktif dalam percaturan politik di 2019 lalu, Habib Rizieq Shihab.

Tokoh yang satu ini memang sejak kemunculannya hingga hari ini begitu memancing perhatian publik. Kontroversi yang dibuatnya kadang membuat situasi memanas. Masih jelas terproyeksi dalam ingatan kita bagaimana “adu sengit” antara HRS dan Jendral Dudung beberapa waktu lalu. Memantik perdebatan dan persungutan yang tak jarang berujung saling hina dan adu makian terutama di media-media sosial oleh mereka yang terlalu mengkultuskan kedua tokoh tersebut.

Jika hendak melihat bagaimana kans keterlibatan HRS di kontestasi elektoral 2024 mendatang. Agaknya sulit untuk menerka kemanakah mantan Imam Besar Front Pembela Islam ini akan berlabuh. Meskipun, beberapa pengamat menilai HRS secara ideologi politik tentunya akan lebih condong mendukung Anies Baswedan. Namun, hingga detik ini tidak ada satu pun partai yang meminang Anies, meski dibeberapa lembaga survey ia selalu unggul, terlebih panggung politik Anies terutama pasca lengser sebagai Gubernur nampaknya akan tertutup.

Sampai hari ini, hanya tiga nama yang selalu digadang-gadang akan maju sebagai calon Presiden di 2024 nanti yakni, Anies, Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto. Ganjar meskipun dia merupakan kader PDI-P yang jelas dapat mencalonkan Presiden secara pribadi, namun nampaknya persaingan antara Ganjar dan Puan mendapat restu Mama begitu terjal. Meski dipinang oleh Nasdem, agaknya Ganjar pun tidak berani keluar dari kendang banteng selain karena begitu kuatnya juga kedekatan Anies dan Nasdem. Kans Ganjar untuk dicalonkan pun tertutup. Meskipun, secara insyaf penulis sebenarnya yakin bahwa Ganjar tetap akan dicalonkan PDI-P. Maka, dari tiga nama yang tersisa hanyalah Prabowo. Apakah HRS akan berlabuh mendukung Prabowo?

Disini, apabila mendalami melalui pendekatan Behavioralisme. Atau teori tindak perilaku. Agaknya begitu sulit untuk HRS melabuhkan hati mendukung Prabowo. Soalannya jelas, bahwa ada pengalaman yang indah sekaligus tragis yang ditancapkan Prabowo kepada HRS. bergabungnya Prabowo ke pemerintahan selain dianggap merusak demokrasi juga telah meruntuhkan kepercayaan golongan 212 yang dinahkodai Habib Rizieq ini.

Menjadi pertanyaan penting kemudian adalah; Apakah HRS akan terlihat di 2024 sebagaimana pengaruhnya di 2019 lalu?, hanya waktu yang akan menjawab hal ini. Namun yang jelas, pengaruh HRS masih besar terutama bagi kalangan tradisional. Dibeberapa wilayah Jawa, nama HRS masih keramat, meskipun organisasi yang didaulatnya sudah dibubarkan. Seperti dalam pepatah, kita boleh saja dapat menghentikan seseorang bernafas dengan kekerasan. Tetapi, apakah kita bisa menghentikan udara?

Yang jelas, siapapun yang menjadi dukungan HRS nanti kecuali itu Ganjar. Akan memantik suatu sumbu polarisasi baru yang entah siapa, senang sekali melanggengkan polarisasi politik ini. Namun meskipun begitu, tim Belajar Politik mengucapkan selamat dan berkah atas kebebasan Habib Rizieq Shihab. 

*ditulis oleh Tim Redaksi BelajarPolitik.com

---
Kirimkan Tulisanmu ke : redaksibelajarpolitik@gmail.com | Tulisan dapat berupa berita aktual, esai, makalah, puisi atau apapun yang berkenaan pembelajaran Politik. Kumpulkan poin dan raihlah hadiah dari kami.

Komentar