Pelibatan tokoh agama dalam arus politik nasional memang bukanlah sesuatu hal yang biasa. Secara historis, pelibatan tokoh agama di Indonesia dapat ditelusuri sejak era kolonial. Di era Jepang, bahkan para tokoh agamawan Muslim, alim ulama. Terhimpun dalam sebuah majelis yang menjadi asbabun nuzul Partai Masyumi. Jauh sebelum itu, pelibatan ulama juga begitu massif dalam usaha pergerakan kemerdekaan Nasional. Terhitung ada begitu banyak organisasi dan tokoh-tokoh pergerakan yang menggunakan embel-embel agama, terutama Islam dalam usaha meraih tujuannya. Dimulai Serikat Dagang Islam yang kelak menjadi Syarikat Islam dibawah pimpinan Tjokroaminoto dan Agus Salim. Hingga Jamiatul Khair. Meskipun tidak semua berlatar politis tetapi peran kaum agamawan begitu besar dan menjadi kunci penting yang tidak bisa dianggap remeh.
Indonesia juga secara empirik
pernah dipimpin oleh seorang ulama, Namanya Gus Dur atau lengkapnya Kyai Haji
Abdurrahman Wahid salah satu tokoh yang terlahir dari kekompakan kaum Muslimin
diparlemen yang membentuk koalisi poros tengah, menjegal ketua partai yang
memenangkan pemilu saat itu, Megawati Soekarnoputeri. Pada hari ini, kesuksesan
ulama dibidang politik pun terlihat dari duduknya Kyai Ma’ruf Amin sebagai
wakil Presiden mendampingi Presiden Joko Widodo di periode keduanya ini. Meskipun,
kritikan datang bertubi-tubi karena menanyakan peran serta fungsi wapres yang
dinilai banyak pihak tidak begitu terlihat, malah yang terlihat adalah menko
investasi, Opung Luhut. Tapi, tulisan ini tidak akan mengulas itu. Tulisan ini
akan berfokus pada peran ulama yang baru saja bebas dari penjara dan juga
terlibat begitu aktif dalam percaturan politik di 2019 lalu, Habib Rizieq
Shihab.
Tokoh yang satu ini memang sejak
kemunculannya hingga hari ini begitu memancing perhatian publik. Kontroversi yang
dibuatnya kadang membuat situasi memanas. Masih jelas terproyeksi dalam ingatan
kita bagaimana “adu sengit” antara HRS dan Jendral Dudung beberapa waktu lalu. Memantik
perdebatan dan persungutan yang tak jarang berujung saling hina dan adu makian terutama
di media-media sosial oleh mereka yang terlalu mengkultuskan kedua tokoh
tersebut.
Jika hendak melihat bagaimana
kans keterlibatan HRS di kontestasi elektoral 2024 mendatang. Agaknya sulit
untuk menerka kemanakah mantan Imam Besar Front Pembela Islam ini akan
berlabuh. Meskipun, beberapa pengamat menilai HRS secara ideologi politik
tentunya akan lebih condong mendukung Anies Baswedan. Namun, hingga detik ini
tidak ada satu pun partai yang meminang Anies, meski dibeberapa lembaga survey
ia selalu unggul, terlebih panggung politik Anies terutama pasca lengser sebagai Gubernur
nampaknya akan tertutup.
Sampai hari ini, hanya tiga nama
yang selalu digadang-gadang akan maju sebagai calon Presiden di 2024 nanti
yakni, Anies, Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto. Ganjar meskipun dia
merupakan kader PDI-P yang jelas dapat mencalonkan Presiden secara pribadi,
namun nampaknya persaingan antara Ganjar dan Puan mendapat restu Mama begitu
terjal. Meski dipinang oleh Nasdem, agaknya Ganjar pun tidak berani keluar dari
kendang banteng selain karena begitu kuatnya juga kedekatan Anies dan Nasdem. Kans
Ganjar untuk dicalonkan pun tertutup. Meskipun, secara insyaf penulis
sebenarnya yakin bahwa Ganjar tetap akan dicalonkan PDI-P. Maka, dari tiga nama
yang tersisa hanyalah Prabowo. Apakah HRS akan berlabuh mendukung Prabowo?
Disini, apabila mendalami melalui
pendekatan Behavioralisme. Atau teori tindak perilaku. Agaknya begitu sulit
untuk HRS melabuhkan hati mendukung Prabowo. Soalannya jelas, bahwa ada pengalaman
yang indah sekaligus tragis yang ditancapkan Prabowo kepada HRS. bergabungnya
Prabowo ke pemerintahan selain dianggap merusak demokrasi juga telah
meruntuhkan kepercayaan golongan 212 yang dinahkodai Habib Rizieq ini.
Menjadi pertanyaan penting
kemudian adalah; Apakah HRS akan terlihat di 2024 sebagaimana pengaruhnya di
2019 lalu?, hanya waktu yang akan menjawab hal ini. Namun yang jelas, pengaruh
HRS masih besar terutama bagi kalangan tradisional. Dibeberapa wilayah Jawa,
nama HRS masih keramat, meskipun organisasi yang didaulatnya sudah dibubarkan. Seperti
dalam pepatah, kita boleh saja dapat menghentikan seseorang bernafas dengan
kekerasan. Tetapi, apakah kita bisa menghentikan udara?

Komentar